“Azena!!!Azena!!” suara Vanessa kembali memanggilku, membuatku gugup. Langkahku terhenti mendengarnya. Apa yang ingin Vanessa lakukan disini?Kenapa ia memanggil namaku? Mungkin saja ini khalusinasi dari alam bawah sadarku. Tapi semakin lama suara itu semakin jelas, tepat berada di belakangku. Apa ia ingin menemuiku?
Jujur saja, aku sangat takut bila ia melihat wajahku. Wajah yang telah berubah menjadi wajah monster berdarah dingin, yang seakan-akan tak peduli akan orang lain. Aku mencoba memutar tubuhku ke arah Vanessa untuk sekedar melihatnya. Tapi hati ku seolah-olah mencegahku. Aku tak sanggup melihat wajahnya.
Derap langkah kaki terdengar dari belakang, lalu berhenti tepat di belakangku. Aku mencoba melangkahkan kakiku, tapi hatiku seolah-olah mencegahku kembali. Aku sungguh bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Semua tindakan yang ada otakku saat ini sepertinya serba salah. Aku hanya bisa termenung seperti patung, tak tahu apa yang harus kuperbuat saat ini.
Beberapa detik berlalu, namun rasanya seperti sudah beberapa jam. Aku semakin gugup memikirkan apa yang Vanessa katakan kepadaku. Aku takut ia menghinaku dan mencapku sebagai orang yang menakutkan, orang yang aneh, atau orang yang hanya bisa memukuli orang lain. Aku takut ia mengatakan itu semua. Tanganku gemetar tak karuan. Bibirku bergumam tanpa ada kata yang keluar dari dalamnya. Aku hanya bisa memejamkan mata. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat.
Hangat. Hangat sekali. Belum pernah kurasakan suatu hal yang seperti ini. Sebuah kehangatan yang belum pernah kuterima sebelumnya. Punggungku merasakan kehangatan yang membuatku nyaman. Perlahan-lahan kubuka mataku. Dua buah tangan melingkar tepat di depan pinggangku. Tangan yang kecil, halus, dan lembut. Seperti tangan Vanessa pikirku. Tunggu, tadi ada suara Vanessa. Sekarang ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangku seperti tangan Vanessa. Itu berarti Vanessa sedang memelukku sekarang?
“Azena!!Kau mau kemana?Apa kau mau pergi?Apa kau ingin meninggalkanku sendirian disini?” kudengar suaranya lirih. Aku tak kuat mendengar suaranya yang seperti itu. Perlahan-lahan kulepas pelukannya dan menghadapkan tubuhku ke arahnya.
“Mengapa?Mengapa kau menyusulku?” tanyaku.
“Aku mengira kau akan pergi. Kau memang akan pergi kan?” balasnya. Aku menghela nafas sejenak.
“Ya, aku mau pergi. Kukira kau sudah membenciku, jadi tak ada gunanya aku ada disini.”
“Aku tak membencimu. Aku tak akan pernah membencimu” katanya.
“Lalu, kenapa kau berlari melihat tanganku yang ketika itu mengeluarkan api?Kau mengira aku ini orang yang menakutkan kan?”
“Aku hanya terkejut. Tapi setelah menenangkan diri, aku bisa menerima hal itu. Walau memang itu agak sulit untuk diterima”
“Jadi kau tak membenciku? Kenapa?”
“Ya tentu saja aku tak akan membencimu. Itu semua karena aku....mencintaimu”
Serasa disambar petir jantungku mendengar kata-kata itu darinya. Vanessa mencintaiku? Padahal kami baru beberapa minggu kami bertemu. Tak kusangka seorang gadis berani menyatakan cintanya terlebih dahulu dibanding dengan sang pria. Aku senang mendengar kata-kata itu darinya. Dan jujur saja aku punya perasaan yang sama kepadanya. Akhirnya kubulatkan tekadku dan berbicara.
“Aku....juga mencintaimu Vanessa” kataku pelan.
“Apa?” sepertinya ia tidak mendengarnya karena aku mengatakannya dengan pelan. Aku mengatakannya dengan pelan sekali lagi, tapi ia tetap tak mendengarnya. Akhirnya aku menarik nafas dan berteriak.
“AKU JUGA MENCINTAIMU!!!!!”
PLAK!!
Sebuah ember melayang ke wajahku. Ya, wajahku jadi korban lagi. Kulihat arah gayung tersebut menghantam wajahku. Terlihat seorang wanita dengan wajah merah padam. “Jangan berisik!!!Ini sudah malam. Dasar anak jaman sekarang, pacaran tapi tak ingat waktu.” Katanya rewel. Vanessa hanya bisa tertawa karena lemparan ember tadi mengenai wajahku. Aku pun ikut tertawa bersamanya.
Malam itu menjadi sebuah malam yang indah bagiku. Malam ini menjadi momen bersejarah dalam hidupku. Dimana aku mendapat sebuah kepastian bahwa ada seseorang yang mencintaiku. Seseorang yang selalu bersamaku setiap saat dan setiap waktu. Malam itu kami pulang sambil bergandengan tangan.
Beberapa hari berlalu. Aku berlatih bersama kakek Akasa. Hari ini aku dilatih dengan cara meditasi, yaitu berdiam diri sambil memusatkan pikiran di bawah siraman air terjun kecil yang asli-dingin-banget yang berada di belakang rumah kakek Akasa. Di punggungku sudah ada beberapa bercak-bercak merah. Itu semua karena sabetan dari kayu milik kakek Akasa.
Ia memukulku setiap kali aku tidak bisa berkonsentrasi. Sebenarnya aku sudah berusaha untuk berkonsentrasi, tapi itu sulit. Itu semua karena setiap kali aku hampir mencapai titik pusat konsentrasiku, bayangan Vanessa selalu muncul di pikiranku. Ya, bayangan Vanessa. Vanessa, oh Vanessa.....
“Susah sekali diatur kamu ini ya” ujar kakek Akasa berdiri dihadapanku dan menyentil dahiku.
“Aduh!! Iya maaf” kataku.
Saat aku mencoba berkonsentrasi, kakek Akasa dipanggil oleh seseorang dari luar rumah. Sepertinya ia sedang kedatangan tamu. Aku memejamkan mataku dan mencoba berkonsentrasi penuh. Kucoba menghilangkan semua gangguan dan memusatkan pikiranku. Kucoba hilangkan semua yang membuatku kehilangan konsentrasi, termasuk wajah manis Vanessa. Ya,Vanessa. Vanessa, oh Vanessa..........
BRAAKKK!!!!
Suara barang-barang yang berjatuhan terdengar. Apa yang terjadi?
tinggal tambah google adsense ini blog bagus banget... Saya siap bantu, kunjungi saja http://adsensemurahterpercaya.blogspot.com
BalasHapus