Selasa, 01 Mei 2012

Esper, chapter 1 (Completed)

--- Part 1 ---


                “Fire Blaze” Teriak pria di depanku seraya menembakkan meriam api ke arahku. Aku menghindar ke samping lalu segera mengcopy serangannya.

                “Gatcha, Fire Blaze” Teriakku seraya menembakkan meriam api yang sama ke arahnya. Lawanku hanya menatap meriam api dengan ekspresi terkejut dan bingung. Dia terkena seranganku sehingga terpental ke belakang dan jatuh tidak sadarkan diri.

                “Good job, Nara” Ucap seorang perempuan berambut cokelat panjang di belakangku. Perempuan itu mengenakan sebuah rok mini berwarna merah dan hitam dan baju berwarna hitam. Aku tersenyum dan mengacungkan jempolku.

                “Piece of cake” Ucapku santai. Dia hanya tersenyum lalu berjalan ke arah pria tersebut. Lalu dia mengambil sebuah kalung yang dikenakan pria tersebut lalu mencengkramnya sampai hancur dengan kekuatan yang sama sekali tidak cocok dengan badan langsingnya.



                “Dengan begini kita berdua sudah berhasil mengalahkan 5 orang.” Ucap perempuan itu seraya melempar pecahan kalung itu ke arah pria yang terbaring tidak sadarkan diri itu.

                “Yup, kau benar Alice” Dia adalah sahabat terbaikku, Alice. Dan saat ini kami baru saja mengalahkan salah seorang esper yang mengikuti permainan Survival Game ini.

                Ini semua dimulai kira-kira 1 bulan yang lalu. Seorang pria yang mengenakan sebuah jubah berwarna hitam datang ke tempatku. Dia memberikanku sebuah surat dan sebuah kalung. Laki-laki tersebut menghilang saat aku mengalihkan perhatianku sejenak kepada kalung dan surat itu.

                Isi surat itu adalah undangan (atau lebih tepatnya pemberitahuan) bahwa sebuah game sudah dimulai. Game tersebut adalah untuk mengalahkan seluruh pengguna Esper di kota ini dengan cara membunuh atau menghancurkan kalung sebagai tanda pemain. Dan bagi pemenang pertandingan ini, Dewa (atau begitulah pembuat game ini menyebut dirinya) akan mengabulkan satu permintaan kami.

                “Nara-san~” Aku berbalik dan melihat seorang perempuan berlari menghampiriku. Perempuan itu mengenakan pakaian ala gothic. Rambut putih panjangnya berkibar saat dia berlari. Selain itu, tubuhnya sangat mungil. Orang-orang pasti berpikir bahwa dia masih SD karena tubuhnya yang kecil.

                Gadis itu berhenti di depanku lalu berusaha bernafas. Namanya Mikazuki Mia. Dia juga adalah seorang Esper sama seperti kami berdua. Kami bertemu dengannya saat dia dikepung oleh 3 pengguna Esper lain. Setelah kami menolongnya dan membujuknya dia setuju untuk membantu kami.

                “Ayo cepat kita ke rumahmu.” Ucapnya. Aku tidak memperdulikannya dan teteap berbicaa dengan Alice.

                “Kurasa, kalau kita bisa-“

                “Nara-san”

                “-mempertahankannya-“

                “Nara-san!”

                “-Kita akan dapat-“

                “Onii-chan!” Teriaknya. Aku menoleh dan menatapnya dengan senyum.

                “Ada apa, Mia-chan?” Tanyaku.

                “Kenapa aku harus memanggilmu Onii-chan padahal aku setahun lebih tua darimu!?” Teriaknya kesal. Aku
memalingkan pandanganku kembali ke Alice.

                “Oh, maaf. Sepertinya aku salah orang. Sampai dimana aku tadi? Oh iya-“

                “Ini benar-benar aku, Onii-chan” Ucapnya lagi. Sekali lagi aku menoleh ke arahnya.

                “Oh, jadi kau benar-benar Mia-chan? Aku pikir kau orang lain karena cara bicaramu terlalu kasar ke Onii-chanmu sendiri” Ucapku. Dia menggembungkan pipinya karena kesal. Tapi sedetik kemudian wajahnya kembali berseri-seri. Itulah salah satu kelebihan Mia, ‘Change Mood’.

                “Ayo cepat kerumahmu” Ucapnya dengan tatapan kegirangan. Aku jadi penasaran apa yang terjadi. Aku
membungkukkan badanku untuk menyamai tingginya dan memberikannya tatapan penasaran.

                “Ada apa?” Tanyaku santai.

                “Sudah, ikuti saja. Toh kita juga mau pulang setelah inikan?” Ucap Alice. Aku hanya mengangguk.

                “Baiklah, ayo kita pulang”

                “Yey, ayo cepat-cepat” Kami bertiga berjalan ke arah rumahku. Mia berada di depan kami berdua seraya bersenandung.  Sepertinya dia sedang senang. Aku berbalik dan melihat Alice yang, seperti biasa, tanpa ekspresi.

                “Hei, apa kau tahu apa yang terjadi pada Mia? Sepertinya dia senang sekali” Bisikku kepada Alice agar Mia tidak bisa mendengar percakapan kami berdua. Alice menggeleng.

                “Tidak, aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi aku bisa memperkirakan kenapa dia begitu semangat seperti itu”

                “Kenapa?”

                “Nanti juga kau tahu” Ucapnya seraya tersenyum. Aku hanya memiringkan kepalaku dan memberikannya tatapan ‘Kenapa kau tidak beritahu aku sekarang?’ padanya. Tapi dia hanya tertawa kecil. Aku hanya dapat menghela nafas panjang. Hah… Perempuan memang sulit untuk dimengerti.

                “Kita sampai” Ucap Mia menyadarkanku dari lamunanku. Aku menatap sebuah rumah berwarna putih di depanku. Inilah rumahku, rumah yang sebenarnya sangat biasa. Tapi, rumah ini sudah menjadi “Markas” kami.
Kami memutuskannya karena rumahku memiliki sebuah ruangan kosong yang cukup besar (yang disulap dari sebuah gudang biasa) dan sebuah laboratorium bawah tanah. Laboratorium itu dibuat ayahku saat berumur kira-kira sama sepertiku karena dulu dia tergila-gila untuk menjadi seorang scientist. Yah, walaupun sekarang laboratorium itu sudah tidak terpakai karena ayah sudah menjadi dokter (Masih menjadi misteri kenapa ayahku yang tergila-gila ingin menjadi Scientist kini menjadi seorang dokter yang cukup terkenal).

                  “Ayo masuk” Ucap Mia. Lalu dia berjalan ke rumahku dan membuka pintunya. Kami mengikutinya dari belakang.

                   “Aku pulang” Ucapku.

                    “Ara Nara, kau sudah pulang? Sebentar lagi makan malam siap. Untuk kalian berdua juga ada” Ucap seorang perempuan paruh baya yang muncul dari dapur. Perempuan itu memiliki rambut cokelat pendek. Dia mengenakan apron yang menutupi dasternya. Dia adalah ibuku.

                      “Ok”

“Baik tante” Ucap kami bertiga bebarengan. Lalu kami berdua mengikuti Mia pergi ke ruang Laboratorium.

--- Part 2 ---

“Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan pada kami?” Ucapku setelah kami semua sampai di laboratorium.

“Hehe” Ucap Mia dengan kedua tangan dipinggangnya. “Kagumlah pada penemuanku ini. Tada!” Teriaknya seraya menunjukkan sebuah kacamata berwarna merah yang selama ini ada di atas meja. Aku hanya memandangnya keheranan.

“Kacamata?” Tanyaku. Dia mengangguk.

“Yup, tapi bukan hanya kacamata biasa. Kacamata ini dapat merekam dan memproyeksikan hasil rekamannya.” Balasnya seraya memakai kacamata tersebut. “Alice-senpai. Tolong gunakan kekuatanmu” Lanjutnya seraya menekan sebuah tombol di kacamata tersebut. Alice mengangguk lalu tiba-tiba dia menghilang dan muncul di depanku. Mia menekan tombol yang lain lalu muncul sebuah layar. Layar tersebut menampilkan rekaman Alice yang berlari dan berhenti di depanku. Mia menyentuh video tersebut lalu menuliskan kata Speed di dalamnya. Kemudian layar tersebut menghilang.

“Ohhh” Ucap Alice kagum. Aku hanya memiringkan kepalaku tidak mengerti.

“Hebatkan?” Tanya Mia dengan wajah berseri-seri. Alice mengangguk dengan wajah yang kagum. Sedangkan aku, aku masih tidak mengerti apa yang dimaksud dengan penemuannya itu.
“Melihat dari wajahmu, aku yakin kau belum mengerti” Ucap Alice. Aku mengangguk. Alice dan Mia hanya menghela
nafas.

“O-oi. Mau baga-“

“Aku  beri kau satu petunjuk, Your Power” Potong Alice. Kekuatanku, apa yang dia maksud.

“Kekua- Ah!” Tanpa sadar aku berteriak begitu menyadari apa yang dia maksud. Jadi begitu, aku mengerti sekarang.

“Yup, kacamata ini dapat merekam dan memproyeksikannya. Dengan kata lain kau dapat merekam semua pertarungan dan-“

“Aku mendapat mengcopy kekuatan lawan-lawan yang pernah kulawan kapan saja” Potongku. Alice mengangguk.
“Hebat, Hebat sekali Mia. Tidak aneh kau disebut-sebut sebagai ilmuwan jenius” Ucapku terkagum. Dia menaruh kedua tangannya di pinggangnya dan membusungkan dadanya.

“Hehe. Seperti ini saja sih seperti sarapan untukku.” Ucapnya. Mia adalah seorang yang sangat jenius. Dia sudah diberi gelar “Doctor” sejak umur 10 tahun. Dan sudah membuat banyak sekali penemuan. Bisa dibilang dia adalah salah satu asset Negara ini.

Pintu laboratorium tiba-tiba terbuka dan muncul seorang pria bertubuh sedang, berambut hitam panjang dan mata berwarna hitam. Pria itu mengenakan baju berlengan bunting berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam juga. Pria tersebut membawa sebuah kantung plastic yang berisi 4 botol minuman.

“Yo, Demio.  Lihat, Professor cilik kita membuat penemuan baru lagi.” Ucapku seraya menunjukkan kacamata tadi kepada Demio.

“Si… Siapa yang kau sebut professor cilik!?” Teriak Mia. Aku dan yang lain hanya tertawa. Mia yang kesal hanya dapat menggembungkan pipinya.

“Coba lihat” Ucap Demio. Dia mengambil kacamata tadi dari tanganku dan memperhatikannya dengan seksama.

“Apa ini?” Tanyanya. Dan, sekali lagi, Mia melakukan pose kebanggannya.

“Hehe, Kagumlah pada diriku yang sangat jenius ini. Kacamata itu dapat merekam video dan menampilkan video yang direkamnya”

“Ditambah dengan kekuatan Nara, benda itu menjadi sangat berguna” Lanjut Alice. Demio hanya mengeluarkan ekspresi
“ooo” lalu mengembalikan kacamata tersebut padaku.

“Hebat. As expected from a Genius Professor” Ucap Demio santai lalu kembali berjalan ke arah plastic yang tadi dibawanya. “Ini. Sebagai hadiahnya” Ucapnya seraya melempar sebuah minuman ke arah Mia.

“Yey, Dr Pepper” Ucap Mia kegirangan seperti anak kecil yang baru saja mendapat permen. Walaupun dia adalah seseorang yang sangat jenius, tapi bagaimanapun dia masih seperti anak kecil.

“Ini untuk kalian” Demio memberikanku dan Alice masing-masing sebotol Cola. Aku membuka penutupnya dan meminumnya sampai tinggal setengah.

“Wah, ternyata aku haus sekali” Gumamku. Tapi sepertinya Alice tidak seperti itu. Dia menaruh cola pemberian Demio di atas meja dan memandang Mia yang sedang meminum Dr Peppernya dengan tatapan yang serius.

“Jadi… Bagaimana hasilnya?” Tanyanya. Aku dan Demio yang tidak mengerti hanya menggumamkan kata “Huh?”. Tapi Mia yang sepertinya mengerti apa yang dimaksud Alice berhenti meminum Dr Peppernya dan balik menatap Alice.

“Aku baru saja mau melakukannya” Ucapnya. Alice hanya mengangguk-angguk.

“He-Hei.. Apasih yang sedang kalian berdua bicarakan” Tanyaku.

“Bukan hal penting, hanya ingin mencari tahu kenapa orang yang mengaku dirinya Dewa itu memulai game konyol ini” Balas Alice.

“Dan bagaimana cara kalian berdua mencari tahu hal tersebut?” Balas Demio yang sepertinya juga penasaran apa yang Alice dan Mia bicarakan.

“MengHack Instansi pemerintahan tentu saja” Ucap Mia dengan senyum mengerikan di wajahnya.

--- Part 3 ---

                “Me-Menghack instansi pemerintah!?” Teriakku tidak percaya apa yang baru saja kudengar. Apa maksudnya dengan menghack pemerintahan? Kalau sampai ketahuan, orang-orang berpakaian hitam pasti akan kemari dan menangkap kami semua. Lagipula apa hubungannya antara permainan ini dengan pemerintah?

                “yup, kami pikir pemerintah pasti mengetahui soal permainan Esper ini. Tapi, bukankah ini aneh? Kalau aku jadi presiden, aku pasti akan memindahkan para Esper dari kota ini ke sebuah daerah terpencil karena takut akan jatuhnya korban.”

                “Benar juga, aku bahkan tidak pernah dengar ada kasus pembunuhan yang dilakukan para Esper, padahal aku yakin pasti sudah banyak yang menjadi korban karena game ini” Ucap Demio.

                “Ya, karena itu kami berpikir mungkin saja pemerintah terlibat dalam pengadaan game ini”

                “Jadi, menurut kalian, game ini bukan benar-benar diadakan oleh dewa?” Tanyaku yang mulai sedikit mengerti apa yang mereka bicarakan.

                “Geez, jangan depresi seperti itu” Ucap Alice tiba-tiba. Sepertinya dia menyadari keputusasaanku dari suaraku. “Masih terlalu cepat untuk mengambil keputusan. Pertama-tama kita harus mengumpulkan informasi terlebih dahulu” Aku menghela nafas lega. Syukurlah, tadi aku benar-benar takut Alice akan bilang ‘tentu saja bukan’.

                Pintu laboratorium tiba-tiba terbuka. Reflek kami semua segera menoleh dan melihat ibuku yang sedang menggunakn apron.

                “Makan malam sudah siap.” Ucapnya lembut. Aku mengangguk sebagai balasannya. Lalu ibu kembali pergi ke ruang makan.

                “Lebih baik kita makan dulu” Ucapku. Mia dan Demio mengangguk lalu mulai keluar dari laboratorium.

                “Tunggu Nara!” Ucap Alice tiba-tiba dari belakangku. Aku segera berbalik dan menatapnya. “Kalian duluan saja, aku mau berbicara secara pribadi dengan Nara” Lanjutnya. Aku merasa Mia dan Demio mengangguk lalu menutup pintu laboratorium.

                “Ada apa Alice? Aku sudah lapar nih” Ucapku santai. Tapi tatapannya masih serius. Sepertinya dia tidak berniat untuk bercanda.

                “Kapan kau akan bilang situasi ini pada Asuka-san?” Tanyanya. Asuka adalah nama ibuku.

                “Err, aku tidak yakin, tapi kurasa lebih baik aku tidak menceritakannya sekarang. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya nanti begitu mendengar keadaan kita yang sedang dalam medan perang ini” Ucapku seraya menggauk belakang leherku. Ini adalah kebiasaanku saat nervous.

                “Idiot!” Teriaknya tiba-tiba. Aku yang terkejut berhenti menggaruk leherku dan menatapnya. “Kau mau bilang akan lebih baik kalau Asuka-san tidak mengetahui keadaan!? Jangan bercanda! Itu hanya akan mengancam nyawanya saja!” Teriaknya.

                “Ta.. Tapi… Kau tahu ibuku kan? Dia pasti-“

                “Sudah pasti dia khawatir. Lebih tepatnya akan aneh kalu dia tidak khawatir. Tapia pa salahnya dengan itu. Itu lebih baik daripada membiarkannya tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba menjadi korban.”

                “Korban?” Tanyaku pelan. Apa maksud Alice sebenarnya. Ibu menjadi korban? Kenapa seperti itu.

                “Ya, mungkin kau berpikir bahwa ini tidak menyangkut ibumu. Mungkin kau berpikir kalau ibumu tidak tahu apa-apa dia pasti akan baik-baik saja.” Ucapnya lalu mengambil nafas panjang. “Justru, Asuka-sanlah yang nyawanya paling terancam disini. Kau punya kekuatanmu untuk melindungi dirimu, begitu juga kami. Tapi bagaimana dengan ibumu?” Tanyanya. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.

                “Semakin cepat kau ceritakan situasimu kepada ibumu semakin baik” Ucapnya lalu pergi meninggalkanku sendirian di laboratorium. Mungkin dia mau membiarkanku berpikir dengan tenang. Baguslah, karena memang itu yang kuinginkan sekarang.

                Aku berusaha mencerna apa yang dikatakan Alice padaku. Ada kemungkinan ibu akan menjadi korban. Setelah kupikir-pikir, itu benar juga. Ada kamungkinan salah seorang pengguna Esper mengetahui identitasku dan menyerang rumahku. Kalau itu terjadi, ada kemungkinan ibu akan menjadi korban. Kalau dari situ, akan lebih baik kalau aku menceritakan situasiku dan memintanya untuk pergi ke rumah kakek.

                Tapi, bagaimana kalau dia menolak. Bagaimana kalau dia menjadi sangat panic dan tidak membiarkanku keluar? Tidak membiarkanku bertemu dengan teman-temanku.

                Aku berpikir dan berpikir. Dan setelah kira-kira 10 menit berpikir, aku memutuskan untuk menceritakan situasiku pada ibuku sekarang juga. Bagaimanapun juga nyawa ibuku jauh lebih penting dari apapun juga.

                Aku berjalan ke arah meja makan dan duduk di sebelah Alice.

                “Jadi?” Tanyanya. Aku menarik dalam-dalam lalu menghembuskannya.

                “Aku akan menceritakan semuanya sekarang” Ucapku tanpa menoleh. Aku merasa Alice tersenyum padaku.

                “Tapi makanlah dulu” Ucapnya. Aku mengangguk. Setelah menghabiskan semua makananku, aku menarik nafas dalam-dalam seraya mengumpulkan keberanianku.

                “Ibu” Ucapku. Ibuku yang sedang merapikan piring sisa makan kami berhenti dan menoleh kepadaku.

                “Ada apa Nara?” Tanyanya. Aku menoleh ke arah Alice dan mengangguk. Alice juga mengangguk.

                “Demio, Mia. Ayo kita lanjutkan pembicaraan kita yang tadi di laboratorium.” Ucap Alice. Demio dan Mia mengangguk lalu mereka bertiga pergi ke laboratorium. Thanks, Alice.

                “Bu, sebenarnya…” Aku mengeluarkan sebuah surat dari sakuku dan menyerahkannya pada ibuku. Ibu menatap surat itu dengan ekspresi kebingungan untuk beberapa detik lalu menerima surat tersebut dari tanganku.

                “Apa ini?” Tanya ibuku seraya memperhatikan surat itu.

                “Bacalah” Ucapku. Ibu membuka surat itu dan membacanya dan kulihat dia sangat terkejut begitu membaca surat itu.

                “A… Apa ini Nara?” Tanyanya. Aku meneguk segelas minum lalu mulai bercerita padanya.

                “Ini semua terjadi kira-kira sebulan yang lalu” Ucapku memulllai ceritaku.

--- Part 4 ---

=== Flashback, 1 Month Ago ===

                Aku menaruh serangaki bunga di sebuah makam lalu memandang makam itu.

                “Mina” Ucapku pelan. I minggu telah berlalu semenjak kejadian yang merenggut nyawa sahabat terbaikku ini. Dan sampai sekarang, aku masih tidak dapat melupakan wajahnya yang tetap tersenyum walaupun sudah bersimbah darah dan kata-kata terakhirnya.

                “Nara, jangan menangis lagi, tetaplah tersenyum. ” Itulah kata-kata terakhirnya sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.

                “Maaf, Mina, maafkan aku yang tidak bisa melindungimu ini” Ucapku pelan menahan tangis. Aku merasakan pipiku basah oleh air mataku sendiri. Aku cepat-cepat menghapus air mataku.

                “Maaf, padahal aku sudah berjanji untuk berhenti menangis” Ucapku seraya terus menghapus air mataku, tapi tidak peduli seberapa kerasnya aku berusaha, air mataku akan tetap keluar kembali. “Maaf, Mina” Ucapku yang sudah menyerah menghapus air mataku dan sekali lagi menatap makam itu.

                “Boy” Ucap sebuah sura. Aku yang terkejut segera berbalik dan melihat seseorang mengenakan jubah di depanku. Wajahnya tidak terlihat karena jubah itu. Dia mengulurkan sebuah surat dan sebuah kalung.

                “Apa ini?” Tanyaku, tapi dia tidak membalas. Aku mengambil surat dan kalung itu dari tangannya dan memperhatikannya sebentar. “Apa i-“ Pria itu menghilang, entah bagaimana tapi dia sudah menghilang dalam sekejap. Aku yang penasaran membuka surat itu dan membacanya.


                Namikaze Nara, Saya mengundangmu ke dalam sebuah game kematian yang biasa kalian sebut “Survival Game”. Anda hanya harus mengalahkan peserta lain yang merupakan seluruh pemilik Esper dengan cara membunuh mereka atau menghancurkan kalung seperti yang kau miliki sekarang yang dimilikinya. Tapi berhati-hatilah, jika kau kehilangan kalung milikmu, maka kau akan kehilangan kekuatanmu. Dan bagi pemenang permainan ini, Saya akan mengabulkan apapun permintaannya, termasuk menghidupkan kembali seseorang yang sudah lama meninggal.Good luck!

                                                                                                                                                                Sincerely
                                                                                                                                                                   GOD


`               Aku terkejut begitu membaca isi surat ini, Survival Game? Apa maksudnya? Dan apa benar bahwa pelaksana game ini adalah Dewa itu sendiri?

                Di saat aku sedang berpikir, aku mendengar seseorang memanggilku. Aku berbalik dan melihat seorang perempuan berambut merah panjang berlari ke arahku.

                “Nara!” Teriaknya. Dan dalam sekejap, dia sudah ada di depanku. “Apa kau juga- Oh, I see” Katanya begitu melihat surat yang ada di tanganku.

                “Kau juga?” Dia mengangguk. Tch, ini buruk. Kalau seperti ini, aku dan Alice akan menjadi musuhku. Tapi aku tidak ingin Alice menjadi musuhku karena bagaimanapun dia juga adalah sahabatku. Well, sebenarnya, kalaupun kami bertarung, aku yakin aku tidak mungkin dapat menang darinya. Bertahan selama 1 menitpun tidak. Tapi, tidak disangka-sangka, Alice tersenyum padaku.

                “Melihat dari wajahmu, sepertinya kau takut aku menjadi musuhmu ya?’

                “Tentu saja! Kau adalah sahabatku, aku tidak ingin bertarung denganmu!” Teriakku, Alice terkejut sebentar tapi lalu tenang kembali. “Well, kalaupn kita harus bertarung, aku tidak mungkin menang darimu” Lanjutku seraya menggaruk belakang leherku.

                “Hahahaha” Alice tertawa kecil, aku berhenti menggaruk leherku lalu menatapnya dengan ekspresi penasaran.

                “Kenapa kau tertawa?” Tanyaku.

                “Hahaha, tidak maaf. Tidak ada apa-apa” Ucapnya pelan. Sepertinya dia sedang berusaha menahan tawanya meledak. “Tenang saja. Aku tidak ingin jadi musuhmu juga. Kurasa kita bisa bekerja sama mengalahkan peserta lainnya. Lagipula, belum ada bukti bahwa pengirim surat ini benar-benar dewa atau bukan.” Ucapnya menenangkanku. Aku menghela nafas lega. Syukurlah Alice tidak menjadi muusuhku.

                “Kalau begitu, ayo kita bekerja sama mengalahkan peserta lainnya dan ayo kita bangunkan putri yang tertidur ini” Ucapku seraya mengulurkan tinjuku. Alice membalasnya dengan memukul tinjuku.

                “Yosh” Ucapnya.

=== Forward, 1 month Later ===

                “Jadi begitu” Ucap ibuku. Aku baru saja menyelesaikan ceritaku dan kini aku sedang menunggu respon ibuku. “Jadi kau mengikuti permainan ini untuk menyelamatkan Mina-chan?” Ucap ibuku. Aku mengangguk.

                “Yah, walaupun seperti yang Alice bilang, mungkin saja pembuat game ini bukan Dewa itu sendiri melainkan seseorang yang sudah gila dan ingin mendapat hiburan” Balasku. Ibuku mengangguk-angguk. Lalu dia bangkit dari kursinya dan pergi ke luar ruangan. Aku menuangkan the ke gelasku lalu meminumnya. The memang sangat efektif untuk menenangkan diri.

                Tidak beberapa lama kemudian, ibu kembali muncul dan kini dia membawa sesuatu yang sepertinya adalah 2 sebuah Dagger. Ibuku berjalan ke arahku lalu mengulurkan Dagger itu padaku.

                “Ambilah! Jagalah dirimu dengan Dagger ini!” Ucapnya. Aku menerma Dagger tersebut lalu mengeluarkan Dagger itu dari sarungnya dan terkejut melihatnya.

                Dagger itu berwarna hitam seluruhnya, bahkan bagian pedangnya sekalipun. Dan sepertinya Dagger ini bukan di cat dengan warna hitam, melainkan dari awal dibuatnya sudah berwarna hitam.

                “Itu adalah Dagger yang diwariskan secara turun temurun di keluarga ayahmu. Ibu tidak mengerti, tapi sepertinya Dagger itu memiliki sebuah kekuatan yang dapat membantumu” Ucap ibu. Aku tersenyum mendengar penjelasannya.

                “Oh, ayolah bu. Di jaman teknologi maju seperti ini, masa ibu masih percaya dengan hal-hal mistis seperti itu” Ejekku. Ibuku hanya menghela nafas lalu duduk kembali di bangkunya.

                “Lalu bagaimana dengan sahabatmu itu?” Tanyanya. Aku terdiam tidak tahu harus menjawab apa.

                “Alice itu… lain” Pada akhirnya, hanya itulah kata-kata yang bisa kuucapkan. Dan ibuku hanya tertawa mendengar jawabanku yang membuat wajahku memerah. Sebenarnya, Alice adalah seorang vampire (bahkan seorang putri di clannya). Yah, walaupun begitu, dia tetap bersikap seperti manusia biasa. Dia bahkan tidak pernanh memintaku memberikan darahku. Dan setiap kali aku Tanya bagaimana cara dia mendapat darah, dia selalu menjawab “Tenang, aku tidak membunuh siapapun”. Sampai pada akhirnya, aku menyerah menanyakan hal itu lagi padanya.

                “Sudah malam, tidurlah! Biar ibu yang mengantar teman-temanmu ke ruangannya” Ucapnya. Aku mengangguk.

                “Baiklah” Ucapku pelan. Setelah itu aku beranjak pergi ke arah kamarku. Begitu sampai di kamarku, aku langsung merebahkan diriku di kasur. “Hari ini sungguh melelahkan” Gumamku pelan lalu terlelap ke dalam tidurku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar