Sabtu, 20 Oktober 2012

The Legend of Eler : Azena's Journey (chapter 1)

Perang
Satu hal yang sangat kubenci di dunia ini
Perang hanya membuatku terpisah dari seseorang
Seseorang yang sangat berharga bagiku
Tapi,siapa orang itu?
Aku tidak bisa menemukan jawabannya

Byur!!!
Seember air menyiram seluruh tubuhku, membuatku pakaianku basah kuyup. Aku terbangun dari mimpiku. Aku mendengar orang yang menyiramku berteriak-teriak kepadaku sambil menyisipkan kata makian dalam kalimatnya. Orang itu sudah biasa berteriak seperti itu. Aku pun juga sudah terbiasa mendengar teriakan seperti itu. Hal itu dikarenakan setiap hari aku tidur di depan toko roti orang tersebut.


“Cepat bangun,tukang tidur!!!Apa kau mau kupanggang dan kujadikan tambahan untuk rotiku?” teriaknya emosi. Aku segera berlari dari tempat itu. Daripada telingaku menjadi rusak,pikirku. Hal ini setiap hari terjadi,karena aku tak punya rumah di kota kecil bernama Torin ini untuk ditinggali. Itu semua karena perang yang ada selama ini.

Perang, satu kata yang kubenci. Dimana orang-orang saling membunuh layaknya binatang. Hal inilah yang merenggut kebahagiaan dari hidupku.Perang membuatku terpisah dari seseorang yang sangat berharga. Seseorang yang sangat berarti bagiku. Tetapi, aku tidak tahu siapa orang itu. Saat aku mencoba mengingat hal tersebut,kepalaku terasa sakit.Hal itu membuatku tidak bisa mengetahui siapa orang itu sesungguhnya.

Aku tiba di sebuah pasar yang cukup ramai. Aku berlari menerobos kerumunan orang-orang dewasa. Hal ini sangat mudah kulakukan berkat tubuhku yang memang kecil diantara tubuh-tubuh besar lainnya. Aku memang masih berusia 12 tahun,tetapi aku harus hidup sendiri. Kadang aku iri ketika melihat anak lain yang seusiaku dimanjakan oleh keluarga mereka.

Aku hidup dan mencari makan dengan cara yang memang tidak baik,yaitu mencuri.Hanya itu yang bisa kulakukan di zaman seperti ini. Sebenarnya, aku mau saja mencari pekerjaan. Tetapi tidak ada sama sekali pekerjaan yang bisa dilakukan tubuh seperti ini. Kalaupun aku mengemis,tidak mungkin ada harapan orang lain untuk memberiku sedikit uang atau makanan. Orang tidak lagi saling menolong, mereka hanya memikirkan diri dan keluarga mereka sendiri.

Semua itu terjadi karena adanya perang. Karena perang membutuhkan biaya yang besar untuk membeli pedang, panah, kuda, dan peralatan perang lainnya, maka mau tidak mau pihak kerajaan  menarik iuran secara paksa kepada setiap penduduk yang ada.Ya,semua ini terjadi karena perang. Hal ini yang membuat kebecianku terhadap perang semakin menjadi-jadi.

Aku melihat sekeliling,lalu kutemukan sesuatu yang menarik perhatianku. Seorang wanita yang membawa uang yang cukup banyak untuk berbelanja. Aku menunggu saat dia lengah, dan begitu ada kesempatan langsung kusambar uang itu secepat mungkin. Aku langsung mengambil langkah seribu dan kabur dari tempat itu.


“Tolong!!Ada pencuri!!” teriak wanita itu. Spontan,orang-orang di sekitarnya langsung mengejarku. Aku berlari secepat mungkin agar tidak tertangkap,memanjat ke atas rumah, dan menelusuri gang-gang sempit untuk mempersulit orang yang mengejarku. Tetapi mereka cukup lihai dan tetap membuntutiku. Tiba-tiba aku melihat dinding tinggi yang menghalangi jalanku. Ternyata aku berlari menuju jalan buntu. Oh tidak!!!Aku tidak bisa lari lagi!!!.

“Hahaha,sekarang kau mau lari kemana tikus kecil??Kau tidak bisa lari lagi!!!” ujar seorang pria. “Ya,dan dengan ini kau akan tamat!!!Tak ada lagi pencuri kecil di pasar ini!!” sahut yang lain. Aku bergidik ngeri mendengar perkataan mereka. “Tamatlah riwayatmu tikus nakal!!!”

Tubuhku diangkat dengan mudahnya oleh seorang dari mereka. Lalu ia melemparku. “Brugghhhh!!” punggungku membentur tembok yang keras. Badanku terasa sakit. Tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di perutku,menyusul pukulan dan tendangan lainnya di berbagai area tubuhku. Tubuhku yang mungil dihajar habis-habisan oleh orang-orang itu

“Matilah kau bocah tengik!!Di zaman perang ini,kau hanya menyusahkan kami saja!!” Teriak orang yang memukuliku. Perang, perang, dan perang. Di tengah rasa sakit dipukuli, aku masih sempat berpikir. Peranglah yang membuat semua ini terjadi . Kalau tak ada perang, hal seperti ini tidak akan menimpaku. Perlahan-lahan, pandanganku mulai kabur. Dunia terasa semakin gelap. Dan tak lama kemudian aku terjatuh tak sadarkan diri.

Dalam keadaan tak sadarkan diri, aku bermimpi. Aku bertemu seseorang yang dulu sangat berharga bagiku. Seorang anak laki-laki berambut hitam lurus, mata coklat, dan dengan bentuk wajah yang samar-samar. Sepertinya aku mulai bisa mengetahui siapa anak itu. Tetapi,tiba-tiba pandanganku berubah. Mataku mulai terbuka. Aku tersadar.

Aku terperangah melihat apa yang ada di hadapanku saat ini. Aku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku mencoba melihat sekeliling, dan aku mendapati pemandangan yang sama. Merah. Merah menyala.Kota telah berubah menjadi lautan api!!!

Aku panik. Begitu pula dengan orang-orang kota yang lain. Ada yang sibuk menyelamatkan harta benda mereka, ada pula yang segera lari dari kota, dan ada orang yang terbakar hidup-hidup berlari sambil berteriak meminta tolong. Aku menangis. Baru kali ini aku melihat hal yang mengerikan seperti ini. Aku pun segera berlari keluar dari kota yang semakin dipenuhi nyala api.

Beberapa jam berlalu,hujan pun turun memadamkan api di kota kecil itu. Aku bersama beberapa penduduk lain melihat dari kejauhan. Mereka menangis melihat rumah mereka terbakar hangus. Tiba-tiba ada beberapa orang yang berteriak kepada penduduk.

“Anak itu monster!!!Anak itu yang telah membakar kota kita!!!” teriaknya dengan suara yang serak. Aku terkejut. Aku membakar kota??Memang apa yang sudah kuperbuat selama pingsan tadi sehingga bisa menghanguskan kota ini??Bagaimana bisa seseorang yang tak sadarkan diri membumi hanguskan sebuah kota?

“Hei anak monster!!!Pergi kau dari sini!!Aku tak sudi lagi melihat wajah orang yang sudah membakar rumahku” teriaknya lagi disusul lemparan sebuah batu kecil. “Ayo usir dia!!” orang-orang melempariku dengan batu-batu yang ada. Bahkan,ada yang menebas pedangnya ke arahku. Aku mengelak, tetapi sebagian wajahku terkena sabetan.Aku kabur dari situ dan masuk ke hutan yang ada untuk menyelamatkan diri.


Apa yang sudah terjadi??Aku mencoba mengingat-ingat kejadian saat aku pingsan. Namun aku tak bisa berkonsentrasi karena lukaku yang semakin menjadi-jadi. Luka bekas tebasan pedang dan timpukan batu tadi membuat semua badanku terasa sakit. Aku kembali menangis menahan sakit. Aku mencari beberapa tumbuhan di dalam hutan untuk mengurangi sakit dari lukaku.

Aku berjalan menelusuri hutan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Aku terus berjalan tanpa henti. Sesekali aku tidur di atas pohon yang besar bila aku letih, untuk menghindari binatang buas yang kelaparan di bawah sana. Aku terus berjalan selama hampir beberapa bulan,tetapi belum juga aku menemukan pemukiman. Selama perjalanan,aku hanya memakan buah dan dedaunan yang ada di hutan. Aku telah berjalan melewati lembah, mendaki gunung, menyeberangi sungai,dan sebagainya. Di saat aku mulai kehabisan tenaga, tibalah aku di suatu tempat.

Aku berada di tengah-tengah pepohonan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pohon itu tidak sebesar pohon-pohon yang ada di hutan pada umumnya. Dan anehnya lagi,daun dari pohon-pohon itu tidak berwarna hijau ataupun kuning,tetapi berwarna merah muda. Dan sepertinya pohon-pohon ini sedang dalam musim gugur, bisa kulihat dari banyaknya daun merah muda yang ada di tanah.

Angin berhembus lembut,mengurai rambutku yang sudah sebahu ini. Daun-daun dari pohon-pohon itu kembali berjatuhan,menimbulkan sebuah pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sebuah pemandangan yang sangat indah yang baru pertama kali kulihat seumur hidupku. Tanpa sadar, bibirku tersenyum kecil.

Angin berhembus semakin menyejukkan, membuatku ingin terlelap. Kakiku tak punya tenaga lagi untuk menopang tubuhku,mataku pun semakin berat rasanya.  Badanku semakin lemas, karena mulai kehilangan tenaga. Aku mulai merasakan sakit di dadaku.

Samar-samar terlihat seorang anak perempuan berjalan menuju arahku. Dia berjalan dengan tersenyum sambil membawa keranjang berisi ikan dalam jumlah banyak. Aku mencoba melihat wajahnya. Tetapi belum sempat aku melihat wajahnya dengan jelas, aku jatuh tersungkur dan kehilangan kesadaranku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar