“Apa kau tahu sebuah legenda tentang pengendali kekuatan elemen alam?” kakek Akasa bertanya kepadaku.
“Tidak,aku tak pernah mendengar legenda seperti itu. Memang legenda apa itu?” aku balik bertanya.
“Jadi begini,dunia ini terdiri dari berbagai macam manusia yang berbeda-beda setiap individunya. Dan setiap manusia mempunyai elemen masing-masing dalam dirinya. Kau,aku, dan orang lain memiliki elemen yang beragam,tergantung dari manusianya.”
“Tahan dulu kek Akasa,aku tidak mengerti apa yang kau jelaskan. Apa maksud dari elemen-elemen itu?Dan dari mana orang-orang mendapatkan elemen itu?”
“Elemen yang kumaksud adalah elemen yang ada di alam ini. Di dunia ini,terdapat 7 elemen utama penyusun alam. Elemen-elemen itu terdiri dari api,air,tanah,udara,petir,cahaya,dan kegelapan. Setiap orang mendapatkan elemen-elemen tersebut sesuai dengan ketentuan alam.” Jelasnya.
“Lalu,apa hubungan elemen itu dengan diriku?”
“Legenda mengatakan bahwa ada beberapa orang tertentu yang mempunyai kekuatan khusus sehingga bisa mengeluarkan dan mengendalikan elemen-elemen itu. Orang-orang itu dikatakan dapat mengendalikan elemen-elemen alam sesuai dengan elemen-elemen dalam dirinya. Dalam legenda mereka disebut sebagai Eler.”
“Lalu?” tanyaku yang masih bingung. Kakek Akasa menghela nafas.
“Kau merupakan salah satu dari pemegang kekuatan tersebut” katanya. Aku terkejut mendengar hal itu. Mengapa harus aku yang mendapat kekuatan ini?. Aku tidak mengerti semua ini. “Lalu,elemen apa yang terdapat dalam diriku?” tanyaku.
“Sudah jelas kan?Kau sudah melihatnya sendiri barusan. Kekuatan itu dapat terlepas dari tubuh seseorang bila ia tidak dapat mengontrol pikiran dan emosinya,seperti yang terjadi saat kau mengeluarkan amarah kemarin dan tadi.” Jawabnya.
“Itu berarti elemenku adalah api?Waw,lumayan juga. Tapi,bagaimana kau tahu tentang semua ini? Mengapa kau bisa menceritakan ini kepadaku?”
“Hah,sebenarnya aku tak mau menunjukkan ini. Tapi baiklah,aku akan memperlihatkannya untuk membuatmu mengerti.” Ujarnya. “Ikuti aku” lanjutnya. Aku pun pergi bersamanya menuju ke halaman rumahnya.
“Perhatikan ini” katanya. Aku memperhatikannya dengan seksama. Ia menggulung kedua lengan bajunya lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Berulang kali ia menarik nafas dan menghembuskannya kuat-kuat. Ia lalu memasang kuda lalu mengangkat tangannya sambil mengarahkan jari telunjuk dan tengahnya kelangit. Seketika kumpulan awan menutup langit yang cerah.
Langit mulai bergemuruh,cuaca mendung seakan-akan langit ingin menumpahkan hujannya. Tiba-tiba ia mendongakkan wajahnya dan membuka matanya. Terlihat matanya berubah warna,yang tadinya hitam menjadi putih seperti warna kilat. Lalu,terdengar suara yang sangat keras.
CETARRR!!!!!
Suara yang dikeluarkan sangat keras,membuatku bereaksi secara otomatis untuk menutup kedua telingaku. Ada sebuah kilat yang muncul secara tiba-tiba. Aku melihat kakek Akasa terkena petir akibat langit yang bergemuruh. Tapi sepertinya ada yang aneh. Kakek Akasa tidak mengeluarkan ekspresi apapun dari wajahnya. Kulihat petir itu mengalir terus. Sesuatu mengejutkanku.
Aku tak dapat percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Ini seperti mimpi dalam tidurku,tetapi hal ini terjadi tepat di depan mataku. Aliran petir itu bukan berasal dari langit,melainkan dari kedua jari yang ia angkat mengarah ke langit tadi.Benar,petir tersebut keluar dari kakek Akasa!!!
Perlahan-lahan warna matanya berubah kembali menjadi hitam. Seiring dengan hal itu,petir yang keluar dari kedua jarinya menghilang. Beberapa saat kemudian awan-awan yang ada di langit mulai berpencar,memunculkan mentari yang sedari tadi disembunyikan oleh awan-awan tersebut.
Aku hanya bisa menganga melihatnya. Inikah kekuatan dari orang-orang yang disebutkan legenda tersebut? Apa sebesar ini energi yang dapat dihasilkan dari orang yang dijuluki sebagai Eler? “Ini sebuah kegilaan yang diluar nalar” pikirku.
“Sekarang kau sudah tahu kan,alasan kenapa aku tahu legenda itu”katanya. Aku hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan. Aku masih tak menyangka ada sesuatu yang luar biasa seperti itu. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Bibirku tak bisa bergerak. Kakek Akasa telah masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan diriku dengan badan yang masih bergemetar.
Beberapa saat kemudian, aku mulai merasa tenang. Aku menyusul ke dalam rumah kakek Akasa. Kulihat ia sedang berbaring sambil mengompres jari telunjuk dan tengahnya.
“Apa yang kau lakukan kek?Ada apa dengan tanganmu?” tanyaku heran.
“Ini karena petir yang barusan kukeluarkan. Mungkin untuk anak muda sepertimu kau bisa melakukan yang lebih dari itu, tapi untukku yang sudah berumur hal seperti itu sudah cukup membuatku kesakitan.” Katanya.
“Memang apa yang terjadi?” lanjutku.
“Hal itu belum bisa kujelaskan selama kau belum dapat mengendalikan kekuatan elemenmu itu.”
“Bagaimana caranya aku dapat mengendalikan kekuatan elemenku? Aku bahkan hanya bisa mengeluarkannya saat aku terlalu marah.”
“Kau harus bisa mengendalikan pikiran dan emosimu. Jika kau bisa mengendalikannya,maka kau bisa mengeluarkan dan mengendalikan kekuatanmu.” Jelasnya. Aku terdiam sejenak. Lalu aku meminta sesuatu kepada kakek akasa.
“Maukah kau mengajariku mengendalikannya?” mintaku memelas. Kakek Akasa tak mengeluarkan sepatah kata pun. Sepertinya ia sedang berpikir. Aku harap-harap cemas menunggu jawaban dari kakek Akasa. Sesaat kemudian ia mengeluarkan jawabannya.
“Baiklah,aku bersedia mengajarimu jika kau memenuhi satu syarat.” Jawaban darinya membuatku senang.
“Syarat apa itu?Selama aku bisa,akan kusanggupi semua persayaratanmu itu” jawabku penuh semangat.
“Akan kuberitahu pada saatnya,sekarang pulanglah.” Katanya.
Aku berjalan pulang melewati jalan menurun karena rumah kakek Akasa yang memang terletak di puncak bukit. Di perjalanan,aku berpikir apakah syarat yang akan diberikan kakek Akasa. Apakah ia akan meminta sejumlah uang sebagai imbalan mengajariku?Tidak,dia bukan tipe orang yang seperti itu. Lalu,syarat apakah itu?
Aku tiba di depan rumah Vanessa. Aku memegang gagang pintu untuk membuka pintunya,tetapi kuurungkan niat tersebut. Aku teringat kembali wajah Vanessa saat ia melihat api yang ada di tanganku. Sebuah wajah yang ketakutan seperti melihat seekor monster yang seakan-akan ingin menelan dirinya. Apa dia masih mau menerimaku di rumah ini setelah melihat semua itu? Apakah dia masih ingin berteman dan bermain bersamaku?
Aku memutar tubuhku lalu berjalan pergi. Aku berpikir ia tak mungkin mau menerima monster sepertiku. Monster yang di matanya sangat menakutkan, yang melukai orang tanpa belas kasihan. Aku memilih untuk pergi dan tak ingin dia melihat wajahku lagi. Aku memilih untuk menjauhi kehidupannya.
“Azena!!” terdengar suara Vanessa memanggilku dari kejauhan. Jantungku serasa akan melompat keluar tiba-tiba ketika mendengarnya.
Kenapa ia menghampiriku?
Menarik! Lanjutin dong... :D
BalasHapus