“Ya, kau boleh tinggal disini selama kau mau” jawab seorang wanita yang merupakan ibunda dari Vanessa. “Aku senang bila putriku mendapat teman bermain” tambahnya sembari tersenyum. Aku senang sekali mendengar jawaban darinya. Itu berarti aku bisa bermain bersama Vanessa sepanjang waktu.
“Nah,karena sekarang sudah malam sebaiknya kalian berdua cepat pergi tidur. Azena,akan kutunjukkan kamarmu, mari.” Ibunda Vanessa berdiri lalu berjalan menyusuri lorong yang berada dalam rumah. Aku mengikutinya dari belakang dan melihat-lihat keadaan rumah. Sederhana,namun sangat indah. Dindingnya terbuat dari kayu,mirip seperti rumah dari orang Timur. Sesaat kemudian, kami sampai di depan sebuah kamar.
Ibunda Vanessa membuka pintu kamar tersebut. “Kau bisa tidur disini. Tapi maaf, kamarnya masih agak berantakan.” ujarnya. ”Sebaiknya aku bereskan kamarmu sedikit” lanjutnya.
“Terima kasih, aku bisa mengatasinya sendiri.” jawabku menolak secara halus. Aku tak ingin merepotkannya.
“Baiklah, kasurnya ada di dalam lemari itu. Selamat malam,Azena” katanya sambil meninggalkanku.
Aku membereskan barang-barang yang berserakan dan membuka lemari. Terdapat sebuah kasur yang mudah dipindahkan, tanpa rangka. Aku menggelar kasurnya dan mengambil sebuah kain untuk selimut. Aku pun berbaring di kasur dan menutup diriku dengan selimut.
Aku mengangkat kedua tanganku. Kulihat ujung tanganku yang lecet karena bekas perkelahian tadi. Lalu aku mengingat sesuatu tentang tanganku yang sempat kulupakan,yaitu keluarnya kobaran api dari kedua tanganku. Aku berpikir apa yang terjadi barusan, namun akalku tak sampai untuk memikirkannya. Justru kepalaku menjadi pusing karenanya. Keletihan yang kualami seharian ini akhirnya membuatku tertidur sangat nyenyak malam itu.
Beberapa minggu telah aku lewati bersama keluarga Vanessa. Suatu hari ayam mulai berkokok, pertanda hari sudah menjelang pagi. Aku menarik kembali selimut dan mengatur ulang posisi tidurku. Aku mencoba untuk tidur kembali karena masih mengantuk. Namun tiba-tiba aku dikejutkan oleh Vanessa yang telah berdiri di sampingku.
“Ayo bantu aku, Azena” katanya.
“Ha?ini kan masih pagi?Memang apa yang mau kau lakukan” aku yang masih ngantuk menjawab dengan lesu.
“Aku ingin mencari sesuatu. Kau mau kan membantuku?” katanya sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang membuatku tak bisa menolaknya. Aku keluar dari jeratan selimut dan bergegas untuk mandi. Sesudah itu aku segera menyusul Vanessa yang berada di depan rumah.
“Mau kemana kita kali ini??” tanyaku.
“Aku tak tau. Dapatkah kalian membantuku menemukan tempat tujuan kita? *CEKLIK* Ya,itu dia!!Mari kita kesana” jawab vanessa. Tunggu, ini bukan serial D*ra the explorer. Terus kenapa dialognya menjadi seperti ini?
Ini yang tepat :
“Itu masih rahasia, lebih baik kau ikuti saja aku”. Ia berlari meninggalkanku. Aku mencoba menebak-nebak kemana dia mengajakku. Apakah ke sebuah taman?. Mungkin saja. Tak sadar, ternyata Vanessa sudah berlari jauh dariku. “Hei!!Jangan terlalu cepat,tunggu aku!!!”kataku sambil berlari menyusulnya.
Kami berjalan bersama dengan aku yang masih belum tahu tujuan perjalanan kami. Kami berjalan melewati tempat dimana kemarin kami melawan beberapa orang dewasa itu. Aku melamun mengingat kejadian kemarin,dimana api keluar dari tanganku. Aku tak tahu ada apa dengan diriku ini. Mungkinkah hal itu merupakan sebuah kebetulan,atau memang ada sesuatu yang aneh dalam diriku ini? Rupanya lamunanku dilihat oleh Vanessa.
“Ada apa Azena?Wajahmu terlihat murung. Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” tanyanya.
“Tidak, tak ada apa-apa” jawabku. Aku tak ingin dia tahu tentang apa yang terjadi pada diriku.
“Tapi raut wajahmu tak berkata demikian. Apa kau mempunyai masalah?” tanyanya lagi.
“Tidak,jangan khawatir. Lebih baik kita bergegas ke tempat tujuan kita” jawabku sambil mencoba menghindar. Tiba-tiba Vanessa memegang tanganku.
“Azena,kau tak bisa berbohong padaku. Aku bisa melihat semua hanya dari wajahhmu. Aku tahu kau mempunyai suatu masalah. Aku tak keberatan bila kau memang tak mau menceritakannya kepadaku. Tapi, aku siap mendengar semua ceritamu kapanpun kau mau. Bila itu bisa membuatmu lebih baik” katanya. Sungguh kata-kata yang membuat jantungku berdegup kencang, yang aku tak tahu alasannya mengapa bisa seperti itu.
Kami tiba di sebuah sungai yang cukup besar. “Kita sampai” ucap Vanessa. Aku duduk lalu bertanya.
“Apa yang akan kita lakukan disini?”
“Kita akan memancing. Tolong ambilkan kayu untuk kita gunakan sebagai tongkat pancing.”
“Lalu,bagaimana dengan tali pancingnya?”
“Jangan khawatir,aku sudah membawanya” Vanessa mengangkat gulungan tali pancing dari tasnya.
Aku pun pergi untuk mencari kayu yang diminta Vanessa. Setelah menemukannya aku kembali ke tempat Vanessa. Kami pun merakit kail untuk digunakan memancing. Lalu,kami pun melemparkan umpan ke tengah sungai.
Lama kami memancing. Vanessa telah mendapatkan banyak sekali ikan. Berbanding terbalik dengan keadaanku sekarang,yang sama sekali belum mendapatkan ikan. Aku mulai kesal karena hal itu. Untuk mengusir rasa kesalku,aku berniat mengambil beberapa buah yang berada di pohon dekat sungai.
Kubilang kepada Vanessa bahwa aku akan mengambil beberapa buah-buahan untuk mengisi perut. Vanessa tak menanggapi, ia sedang asik menarik ikan yang kukira cukup besar. Aku berjalan menuju pohon tersebut dan mulai memanjat. Satu per satu kupetik beberapa buah yang ada. Saat aku mengambil buah apel, terdengar teriakan Vanessa.
“KYAA!!!” suara Vanessa penuh kepanikan. Aku pun menjatuhkan semua buah yang telah kudapat dan melompat turun dari pohon. “Brugh!” kakiku menapak mantap ke tanah,langsung berlari ke tempat Vanessa berada. Aku mendapati Vanessa dikelilingi banyak anak laki-laki yang kira-kira berumur 14-16 tahun. Salah satu dari mereka yang berada di depan Vanessa berbadan cukup berisi,seperti menampung makanan yang begitu banyak.
Anak itu mendekati Vanessa lalu memegang dagunya. “Kau manis juga. Sepertinya kau cocok untuk menjadi pacarku”katanya. Aku langsung berteriak kepadanya.
“Hentikan!!Mau apa kalian??” kataku marah.
“Heh?Kau siapa?Ada urusan apa dengan kami?” anak berbadan tambun tersebut menjawab.
“Dia temanku!!Jangan ganggu dia!!Lepaskan tanganmu dari dirinya!!”
“Oh ,jadi dia temanmu??Kau beruntung punya teman gadis semanis ini. Lalu kau mau apa bila aku mengganggunya?Mau melawan kami??Jangan bercanda,hahahahahaha!” Ia tertawa bersama teman-temannya.
“Aku tak mau terjadi keributan disini. Tolong lepaskan temanku.” Kataku.
“Hah?memang seberapa pentingnya ia bagimu?Gadis kecil seperti ini kau bela?HAH!” ia melempar Vanessa sampai terjerembab. Vanessa menangis karenanya. Hal itu membuat aku tak bisa menahan emosiku. Aku kesal. Aku marah. Hal ini membuatku melewati batas kesabaranku.
“Jangan ganggu Vanessa!!!” Aku menerjang ke arah mereka. Entah kenapa, wajah mereka yang tadinya seperti orang sombong berubah menjadi ketakutan. Aku tak tau mengapa,tapi aku tak peduli. Amarahku terlanjur meledak-ledak . Aku tak dapat mengendalikan diriku. Kutinju dada orang berbadan tambun itu,ia terpental beberapa meter dan membentur sebuah pohon.
Anak-anak lain yang bersamanya tadi bergidik ketakutan,tapi aku tak peduli. Aku menghajar mereka satu per satu dengan tanganku. Hingga sesaat kemudian mereka semua tak berdaya. Aku menghampiri anak berbadan tambun tadi. Aku berdiri di hadapannya. Anak itu langsung berwajah pucat, seperti melihat iblis.
“Jadikan ini pelajaran agar kau tak mengganggu orang lain lagi” aku mengangkat tanganku tinggi-tingginya untuk memukul wajahnya. Ia terlihat semakin ketakutan. Aku mengepal tanganku sekuat-kuatnya, dan menghempaskan tanganku ke wajahnya.
“Hentikan,Azena!!” teriak seseorang seraya menahan tanganku.
Aku menoleh ke asal suara tersebut, mencoba mencari tahu siapa itu. Ternyata dia adalah kakek Akasa. “Sudah cukup Azena. Kau sudah melewati batas!!Lihatlah sekelilingmu!!” Ia berkata penuh emosi. Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa semua orang yang kuhajar tadi penuh luka bakar. Aku tak mengerti apa yang terjadi,hingga aku melihat tanganku sendiri.
Kobaran api itu kembali terlihat di kedua kepalan tanganku. Aku baru menyadarinya sejak tadi,mungkin karena aku terlalu sibuk memukuli mereka semua. Aku teringat akan Vanessa,dan melihat dirinya. Ia terlihat gemetar melihatku dan menangis. Wajahnya terlihat pucat pasi. Sepertinya ia takut karena apa yang dilihatnya barusan. Kudekati Vanessa,namun dia justru mundur dariku.
“Ada apa Vanessa??Aku baru saja menolongmu. Kenapa kau ketakutan seperti itu melihatku?”
Vanessa bergeming. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun,dan justru semakin terlihat ketakutan. Aku mengangkat tanganku yang berkobar. “Apa kau takut karena ini?” tanyaku dengan lembut. Tapi,Vanessa justru berlari dan meninggalkanku. Aku mencoba mengejarnya,tapi kakek Akasa menahanku.
“Biarkan dia. Vanessa butuh waktu untuk sendirian setelah kejadian ini. Sekarang kau harus ikut denganku.” Ucapnya. Aku terdiam karena sedih. Dan pada akhirnya,kami menuju rumah kakek Akasa.
Kami telah sampai di rumahnya. Aku duduk di kursi yang ada, sementara itu kakek Akasa mengambilkan secangkir teh hangat dan diberikannya kepadaku. “Minumlah,tenangkan dulu dirimu sejenak” katanya. Aku meneguk teh tersebut. Tiba-tiba ia berkata sesuatu.
“Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu mengenai dirimu.”
Apa yang ingin diberitahukan olehnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar