“Cepat bersihkan wajahmu. Bila sudah selesai,kompres Vanessa dengan ini” ia menunjukkan sebuah mangkuk berisi cairan berwarna kuning transparan,mirip seperti minyak zaitun. “Dan berikan air ini untuknya bila ia sudah sadar” katanya lagi sambil menaruh sebuah cawan ke atas meja. Kakek itu lalu pergi keluar dari ruangan.
Sekarang aku berada di rumah kakek tersebut, dengan keadaan Vanessa yang masih belum siuman dan wajahku yang masih ada sisa-sisa kotoran binatang. Aku pergi ke sumur yang berada di depan dan mengambil air untuk membersihkan wajahku. Sekilas aku melihat wajahku dari pantulan air di dalam ember. Masih terlihat luka bekas sayatan pedang ketika aku diserang oleh warga kota dulu. Mungkin luka ini tidak akan bisa hilang.
Selesai membersihkan wajah,aku langsung merawat Vanessa. Aku mencelupkan sehelai handuk kecil ke cairan kuning yang diberikan kakek tadi lalu kuperas dan kutempelkan ke dahi Vanessa. Aku melihat wajahnya yang manis. Entah kenapa,aku merasa hatiku tenang ketika melihat wajahnya.Beberapa kali aku mengulangi proses tadi, tapi ia tak kunjung siuman.
Aku mulai panik karena Vanessa sudah pingsan cukup lama. Tak lagi aku memeras handuk yang sudah dicelupkan ke cairan kuning itu. Aku coba memegang dahinya. Lalu tiba-tiba....
PLAKKKK!!!!
Kembali wajahku menjadi sasaran. Setelah dipukuli dengan ikan berukuran besar, lalu diserang oleh gas alami dari si penjual ikan, terkena lemparan kotoran binatang, dan kali ini ditampar oleh Vanessa. Apa salah wajahku ini??
“Ah,maafkan aku. Tadi aku sedang bermimpi buruk,jadi tanpa sadar tubuhku bergerak sendiri” ujarnya.
“Ya,tak apa. Aku memaafkanmu”
“Tapi,kau tak apa-apa kan??apa ada yang terluka??”
“Yah,hanya sedikit memar,dan wajahku....yah,pokoknya tak apalah”
“Oh,syukurlah kalau begitu” kembali ia tersenyum manis.
Setelah itu,tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Semua diam,tak tahu apa yang harus diucapkan. Aku sendiri merasa canggung untuk mencari topik pembicaraan. Akhirnya,suara Vanessa memecah kesunyian.
“Azena,sebenarnya kau berasal darimana??Aku penasaran” lanjutnya.
“Dulu aku tinggal di daerah barat,di sebuah kota yang bernama Torin.Tapi semenjak kotaku terbakar, aku terus berkelana tanpa tujuan. Sampai akhirnya aku sampai di sebuah hutan dengan pohon yang daunnya berwarna merah muda”
“Lalu?”
“Aku terlalu letih dan akhirnya aku tak sadarkan diri. Lalu tiba-tiba saat aku sadar wajahku dipukuli oleh seorang gadis menggunakan ikan super-duper-jumbo.”
“Ah,soal itu maafkan aku. Habisnya aku panik dan tak tau apa yang harus aku lakukan jadi...”
Aku terkejut. “Jadi kau yang memukuliku waktu itu?”. Vanessa mengangguk. “Yah,sudahlah. Yang lalu biarkan berlalu. Aku malah harusnya berterima kasih padamu karena sudah membawaku”
Vanessa hanya bisa menunduk dan tak mau menunjukkan wajahnya. Lalu aku ambil cawan berisi air yang diberikan kakek itu dan memberikannya kepada Vanessa. “Minumlah.Itu air yang sudah diberikan kakek yang menolong kita”. Vanessa mengambil lalu meminum beberapa teguk air tersebut.
Si kakek lalu kembali ke tempat kami berdua. ”Sudah sadar rupanya” katanya. “Jadi kakek yang telah menyelamatkan kita?Terima kasih banyak kek!!”. Kakek itu hanya tersenyum sambil menaruh beberapa makanan ke atas meja. “Ini makanlah,supaya tenaga kalian terisi kembali” . Sambil menyantap hidangan yang diberikan, aku berbisik kepada Vanessa “Kau kenal kakek ini?”.
“iya,aku kenal” Vanessa menjawab dengan mulut yang penuh dengan makanan,sebuah mimik muka yang sangat lucu,membuatku menahan tawa.
“Memang dia siapa?”
“Ceritanya nanti saja,habiskan dulu makananmu” potong si kakek.
Singkat cerita,kami pun berpamitan dari rumah si kakek. Aku berniat untuk menemani Vanessa pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan ,aku kembali bertanya.
“Hei Vanessa,kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”
“Oh iya. Tentang kakek itu? Dia adalah Hizuno Akasa,keturunan orang Timur,salah satu guru beladiri didaerah sini dulu. Tapi ia berhenti karena suatu alasan yang tak pernah ia ceritakan. Pada akhirnya,dia lebih memilih untuk bekerja sebagai petani”
“Oh,pantas saja dia hebat sekali. Bisa mengalahkan beberapa orang hanya dalam sekejap”
“Dia memang sangat kuat,tapi dia tak pernah memamerkan kekuatannya kepada orang lain. Ia hanya menggunakan kekuatannya untuk membantu yang lemah. Itulah yang membuatku menghormatinya”
“Yah,suatu hari nanti,aku ingin bisa sekuat itu”
Tanpa sadar kami sudah sampai di depan rumah Vanessa.
“Setelah ini,kau mau kemana?” tanya Vanessa.
“Yah,mungkin aku akan berkelana lagi. Aku akan terus berjalan sampai aku menemukan tempat yang memang seharusnya aku berada di sana.”
Air muka Vanessa berubah. “Jadi,kau akan pergi meninggalkan kota ini?” tanyanya.
Sejujurnya,memang aku merasa nyaman berada di kota ini. Sebenarnya sih,karena di kota ini ada senyum manis Vanessa. Tapi aku tak bisa menetap di sini.
“Yah,mungkin. Sejujurnya aku menyukai kota ini. Namun aku tak bisa terus tinggal disini. Aku tak punya tempat untuk tinggal disini. Jadi,lebih baik aku pergi”
“Bagaimana kalau kau tinggal dirumahku?”
“Benarkah?Aku boleh tinggal dirumahmu?”
“Ya. Tentu!!Kau boleh tinggal disini selama yang kau mau”
Pada akhirnya,aku tinggal di rumah Vanessa. Aku tinggal di tempat dimana aku bisa merasakan kehangatan keluarga.
Tapi apakah keluarga Vanessa menyetujui keputusan Vanessa untuk mengizinkanku tinggal di rumah mereka??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar