Aku terjebak dalam sebuah ruangan gelap. Dimana ini??Tempat macam apa ini??Aku mencari-cari jalan keluar dari tempat yang membuatku takut ini. Sebuah suara terdengar di telingaku. Suara yang sangat indah, bagaikan alunan melodi yang membuat jantungku berdegup kencang. Mungkinkah itu suara bidadari??Mungkinkah aku telah mati??. Aku tak dapat mendengar dengan jelas apa yang diucapkannya ,aku mencoba memasang telingaku dengan baik.
Seketika muncul secercah cahaya di hadapanku. Aku mencoba berlari ke arah cahaya itu. Semakin aku berlari, semakin jelas pula suara yang kudengar tadi. Tapi entah mengapa, cahaya itu terasa jauh sekali. Terasa ada yang menarik tubuhku kebelakang dan mencoba menjauhkanku dari cahaya itu. Tetapi aku mencoba melawannya dan terus berlari ke cahaya itu. Perlahan-lahan, cahaya itu semakin dekat, dan akhirnya tiba di depan cahaya tersebut.
Cahaya tersebut sangat menyilaukan mataku. Semakin silau, dan akhirnya pandanganku ditutupi oleh silaunya cahaya tersebut. Perlahan cahaya tersebut menghilang dan pandanganku samar-samar. Aku mengusap kedua mataku, mencoba memperjelas pandanganku. Aku menengok ke samping, lalu tiba-tiba “PRAKKKKK!!!”.
Seorang gadis seumuranku memukulkan ikan yang cukup besar untuk mengisi perut 5 orang sembari berteriak “Bangunlah!!Bangunlah!!Jangan mati disini!!Tolong bangun!!!”. Aku kesakitan akibat dipukul memakai ikan berukuran besar itu. Wajahku terasa panas karenanya. Aku mencoba menghentikan gadis tersebut.Tetapi dalam sekejap aku mulai merasa dunia berputar-putar, semakin cepat, dan semakin cepat. Lalu pandanganku kembali gelap.
Aku kembali ke ruangan gelap itu. Ruangan yang kosong,sepi,sunyi,dan tak berpenghuni. Aku termenung,tak tahu apa yang harus kulakukan di situ. Aku dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggil namaku.
“Azena!!Azena!!” kudengar suara itu tepat dari belakangku. Aku menoleh dan mendapati seseorang yang biasa berada dalam mimpiku. Kali ini wajahnya terlihat sangat jelas di hadapanku. Kuperhatikan wajahnya sejenak. Orang itu mempunyai rambut hitam lurus, mata coklat yang indah, dan juga tampan. Tunggu,rasanya aku pernah melihat wajah seperti ini. Dia....orang itu sangat mirip denganku!!!
“Si...siapa kau??mengapa kau ada disini??” tanyaku terbata-bata.Orang itu bergeming ,seperti tak mendengar perkataanku. Kembali aku bertanya,namun kudapati reaksi yang sama darinya. Barulah saat aku menanyakan kembali untuk yang ketiga kalinya,akhirnya ia menjawab pertanyaanku.
“Aku adalah orang yang dulu selalu menjagamu dan melindungimu,namun karena beberapa alasan,aku tak bisa lagi berada di dekatmu” tuturnya lembut. Aku bertanya kembali “Mengapa?Mengapa kita terpisah dan kau tak ada lagi bersamaku?”.
“Ada beberapa kejadian yang tak bisa kuhindari,dan akhirnya kau terpisah dariku. Pada intinya,ini semua terjadi karena adanya perang.”
“Tapi,siapa kau?Kenapa kau dulu menjagaku?”
“aku adalah.....”
“preetttttt...”
“Hah??Apa katamu?” tanggapku mendengar suara tadi
“Aku adalah....preepetpetpetpet”
Aku bingung dengan apa yang diucapkannya. Apakah ia berniat untuk melucu dengan mengeluarkan suara itu?. Sepertinya tidak, wajahnya tampak sangat serius. Perlahan-lahan, aku mencium sebuah aroma. Kuendus-endus hidungku dan setelah itu aku segera menutup hidungku. Aroma yang sangat aneh!!Sama seperti telur yang telah busuk selama 3 minggu!!
“Bau macam apa ini?” kataku yang tiba-tiba berada di dalam sebuah kain. Tiba-tiba ada suara orang yang berteriak “Siapa itu??” . Aku kaget dan membuka kain yang menutup tubuhku dan mendapati wajahku berada di belakang bokong seorang pria. “Hah??seorang bocah??” ujarnya. Pria itu langsung menggerakkan tangannya dan mengangkatku. Aku mencoba memberontak, tapi karena tak punya tenaga tubuhku sulit untuk melawan.
“Siapa kau,bocah??Vanessa,ini pasti kerjaanmu ya?” katanya sambil melotot kepada seorang gadis. “Iya,maafkan aku” jawab gadis itu sambil merunduk. Oh,jadi namanya Vanessa. Gadis yang manis, pikirku. “Hah,ya sudahlah. Kau boleh menumpang sampai kota, tapi aku tak mau mengurusmu di rumahku.Ini sedikit roti dan air,makanlah!” katanya. Aku yang masih tak mengerti apa yang terjadi,hanya bisa diam dan menghabiskan makanan yang diberikannya.
Setelah beberapa saat menaiki kereta kuda,tibalah kami di sebuah kota. Berdasarkan perkataan pria itu,kota ini bernama Sorena,pusat bisnis di kerajaan daerah Selatan. Pria itu turun dari kereta dan mengangkat beberapa keranjang ikan ke depan sebuah bangunan. Dari dalam bangunan itu keluar seorang pria yang cukup berumur,dan ia langsung menimbang ikan-ikan di keranjang tadi. Setelah berbincang beberapa saat, pria tua tadi memberikan uangnya kepada pria yang membawa keranjang. Setelah menerimanya,ia langsung menuju ke tempatku.
“Ini bagianmu,Vanessa. Sekarang cepat bawa anak ini dan pulanglah ke rumahmu.” Kata pria itu sambil memberikan beberapa lembar uang kepada Vanessa. “Terima kasih banyak,Hovac!!Aku akan pulang sekarang” jawabnya tersenyum manis. Pria yang bernama Hovac itu meninggalkan kami menggunakan kereta kudanya.
“Baiklah,ayo ikut denganku!!”katanya riang. Senyumnya tanpa sadar membuatku merunduk ke bawah. Ia lalu menarik tanganku dan berlari menyusuri jalan-jalan kota. Lalu ia berkata “Aku Vanessa,Alessana Vanessa. Kalau kamu siapa?”
“Aku?Namaku??”
“Ya,namamu”
“Aku.....aku Azena. Razorion Azena”
“Azena??Namamu cukup keren. Salam kenal,Azena!” ia kembali tersenyum.
“Baiklah. Sebagai awal perkenalan kita aku akan mengajakmu berkeliling. Kau bukan dari daerah sini kan?” tanyanya. Aku tak menanggapinya dan hanya melihat sekelilingku. Daerah yang sama sekali belum kukenal.
“Tunggu” kubilang. Ia berhenti lalu bertanya “Ada apa?Kau tidak mau ikut denganku?Apa kau ingin mengunjungi suatu tempat?”
“Bukan begitu.”
“Lalu kenapa?”
“Sebenarnya.....”
“Sebenarnya apa?” tanyanya heran.
“Sebenarnya...uang yang kau bawa tadi terjatuh dan dibawa lari oleh mereka” kataku sambil menunjuk 2 orang yang sedang berlari.
“Apa?Oh tidak,itu uang untuk membeli hadiah untuk ibuku!!Bagaimana ini?tanpa uang itu,aku tak akan bisa membeli hadiah untuk ibu” jawabnya sambil meneteskan air mata.
Aku tak pernah tega melihat seorang wanita menangis. Akhirnya tanpa sadar,bibirku mengeluarkan kalimat yang kedengarannya jantan sekali. “Janganlah kau menangis,aku akan mengambilnya kembali untukmu. Tunggulah disini” kataku sambil memegang kedua pundaknya. Aku langsung berlari secepat mungkin. Kebiasaanku melatih fisik dari kegiatan mencuri memang tak sia-sia. Terbukti, beberapa detik setelah itu aku langsung berada tepat di belakang mereka.
Aku melompat dan menendang punggung salah satu orang dari mereka. Orang itu jatuh tersungkur. Aku langsung memukul bagian belakang lehernya dan dalam sekejap ia tak sadarkan diri. Teman orang itu langsung mencoba memukulku memakai tangan kanannya. Aku merunduk ke kanan dan langsung kupukul perutnya menggunakan tangan kananku. Ia memegang perutnya sambil mundur sedikit ke belakang lalu mencoba menyerangku lagi.
Ia terus menyerangku, tetapi aku dapat menghindar dari semua serangannya karena tubuhku yang kecil sekaligus cukup terlatih dan sesekali melancarkan serangan balasan. Sepertinya tenaganya terkuras cukup banyak akibat semua serangan sia-sia yang ia lakukan tadi. Tetapi ia tak mau menyerah,kembali ia menyerangku dengan sebilah kayu. Ia mengayunkan kayu itu,tapi aku dengan mudah dapat menghindarinya. Aku langsung meninju rahang bawahnya sekuat tenaga dan rontoklah beberapa giginya. Ia langsung terjerembab ke tanah. Tanganku kesakitan karena memukuli orang sejak tadi.
Akhirnya,aku berhasil mengambil kembali uang Vanessa dan mengalahkan satu orang yang sedang tak sadarkan diri itu. Tunggu,satu??Kemana orang yang satunya lagi??Aku melihat sekitar untuk mencarinya.Saat kutengok ke belakang,ia sudah berada di hadapanku bersama beberapa orang lainnya.
Aku terkejut. Nyaliku ciut. Apakah aku akan dipukuli lagi seperti waktu itu?. Ia lalu tertawa dan berkata “Lihat anak ini,ia cukup berani dan tangguh untuk mengalahkan dua orang dewasa. Tapi kau tak akan bisa mengalahkan 9 orang dewasa,hahaha”. Aku gemetar. Badanku tak bisa bergerak.
Akhirnya,aku dihajar oleh kesembilan orang itu. Aku hanya bisa berteriak minta ampun kepada mereka semua. Tiba-tiba seorang gadis berteriak “Hentikan!!Jangan sakiti dia!!”. Vanessa??Padahal sudah kubilang padanya untuk menunggu. Kenapa ia ke sini?
“Jangan pukuli dia lagi!!” teriaknya. Orang-orang yang memukuliku langsung berhenti dan menghampiri Vanessa. “Apa maumu gadis kecil??Tak usah ikut campur urusan laki-laki!!” bentak salah satu dari mereka. Kulihat Vanessa gemetar dan mengeluarkan air mata,namun ia tetap berusaha untuk berbicara kepada mereka.
“Tolong hentikan semua ini!!” ujar Vanessa.
“Diam kau!!”
PLAKKK!!!
Vanessa terpental akibat tamparan seseorang dari mereka.Melihatnya, aku segera bangkit dari posisiku. Aku tak mau melihat seorang gadis dilukai seperti itu. “Jangan sentuh Vanessa” “Jangan sentuh Vanessa” kata-kata itu kugumamkan pelan dari dalam mulutku. Tiba-tiba seseorang dari mereka yang berada paling belakang melihatku. Air mukanya terlihat sangat ketakutan, dan akhirnya ia lari tanpa diketahui yang lain. Aku bingung, tapi ada Vanessa yang sedang dalam bahaya. Aku menggenggam tanganku dan melihat seberkas cahaya. Aku mengangkat kedua tanganku.
Api. APA??ADA API DI TANGANKU??
Kenapa bisa ada api di tanganku?aku berguling-guling ke tanah mencoba memadamkan api tersebut. Api tak kunjung padam,tetapi anehnya aku tidak merasakan sakit terbakar. Aku hanya merasa seperti sedang dicubit. Vanessa berteriak kembali. Aku bingung antara memikirkan bagaimana cara memadamkan api yang dalam sekejap ada di kedua kepalan tanganku atau menyelamatkan Vanessa. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.
Aku menoleh dan melihat orang yang menepuk pundakku. Ternyata seorang kakek yang sudah tua. Mau apa kakek ini??.
“Tenanglah nak,serahkan hal ini padaku.”
Kakek itu berdiri beberapa langkah di depanku dan berkata “Bisakah kalian hentikan hal ini sebelum salah seorang dari kalian terluka?”
Orang-orang tersebut menoleh dan berkata “Mau apa kau kakek tua??Ingat umur!!Jangan ikut campur urusan anak muda”.
“Baiklah,perkataan itu sudah cukup sebagai alasan membuat kalian jera” kata kakek tersebut santai.
“Jangan sombong kau!!” Orang-orang itu berlari menerjang si kakek. Salah seorang dari mereka melempar ember untuk pupuk berisi kotoran binatang ke kakek itu. Kakek itu mengelak dan akhirnya kotoran itu melesat ke belakang si kakek. Tunggu. KE BELAKANG??Itu berarti....!!
“CEPROT!!”
Kembali wajahku menjadi sasaran. Kali ini aku terkena kotoran binatang. Ugh...Bau sekali!!!. Aku mencoba membersihkan kedua mataku menggunakan tangan. Ketika aku bisa melihat, ternyata orang-orang tadi sudah jatuh terkapar dengan keadaan lusuh. Sementara si kakek berdiri tanpa ada sedikitpun noda di tubuhnya. Sedangkan aku.....ah,tak usah dijelaskan lagi.
Kakek itu langsung menghampiri Vanessa yang dalam keadaan tak sadarkan diri dan menggendongnya. Ia lalu pergi berjalan menuju ke sebuah bukit. Aku bertanya “Mau kau bawa kemana Vanessa”. Kakek itu terdiam sesaat lalu menjawab “Jika kau ingin menolong Vanessa,diam dan ikuti aku”. Mendengar nama Vanessa, aku langsung diam dan berjalan di belakang kakek itu.
Apa yang akan ia lakukan kepada Vanessa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar